Teks Argumentasi
KETIKA MEDIA
SOSIAL MENJADI TOLAK UKUR NILAI DIRI SESEORANG
Di era digital,
dimana teknologi berkembang pesat dan menghubungkan semua akses kehidupan dan
interaksi antarmanusia, media social menjadi salah satu yang memiliki
perkembangan paling besar. Media social berhasil membuat sebuah kehidupan
tersendiri di dalam Dunia maya, di mana manusia berlomba-lomba mengikuti
standar untuk menentukan siapa yang layak dan tidak layak. Pada awalnya,
platform media social seperti Instagram dan Tiktok diciptakan untuk membagikan
momen kehdupan dan memperluas interaksi antarindividu di seluruh Dunia. Namun
nyatanya, media sosial berubah menjadi ajang kompetisi popularitas, di mana fitur
seperti jumlah likes, komentar, dan pengikut diartikan sebagai tolok ukur nilai
diri seseorang. Ketika harga diri hanya bersandar pada angka dan interaksi
virtual, fondasinya menjadi rapuh. Nilai diri yang seharusnya dibangun dari
kejujuran, kontribusi, dan hubungan nyata justru hilang karena keinginan untuk
mendapatkan validasi dalam media sosial. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk
membangun “kehidupan sempurna” di media social dibandingkan usaha meraih
pencapaian nyata yang lebih berarti. Hal ini memberikan dampak nyata pada cara
orang menilai dirinya sendiri dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental orang
itu sendiri.
Hal ini didukung
oleh beberapa penelitian yang membuktikan gagasan bahwa mengurangi pengunaan media
sosial berdampak positif terhadap kesehatan mental. Studi dari University of
Pennsylvania menemukan bahwa pengguna yang membatasi waktu penggunaan menjadi
maksimal 30 menit per hari mengalami penurunan rasa kesepian dan depresi secara
signifikan. Eksperimen “puasa media sosial” selama satu minggu pada ratusan
peserta berhasil menunjukkan peningkatan kebahagiaan serta penurunan tingkat depresi.
Penelitian ini dilakukan dengan meminta peserta menonaktifkan Facebook atau
Instagram selama beberapa 7 hari, bahkan disebutkan bahwa hampir 80% dari peserta
merasa hidupnya membaik setelah mengikuti eksperimen tersebut. Adanya peringatan
resmi dari Surgeon General Amerika Serikat pada 2023 juga menegaskan bahwa media
social terbukti menjadi faktor yang memberikan dampak negatif pada kesehatan
mental remaja.
Salah satu dari
beberapa contoh kasus nyata yang memperkuat gagasan ini ialah, kasus yang
dialami mahasiswi 19 tahun di Nakhon Si Thammarat. Ia mengakhiri hidup setelah
ditipu dalam transaksi iPhone yang dibelinya secara daring, ini menjadi sebuah
tekanan mental yang tak mampu ia hadapi. Di Indonesia, sinyal bahaya serupa
terlihat dari keputusan Awkarin, influencer dengan jutaan pengikut, yang sempat
menutup akun Instagram demi menjaga kesehatan mental. Pengalaman ini
menunjukkan bahwa di balik popularitas dan interaksi digital, ada risiko serius
ketika harga diri hanya bergantung pada validasi di dunia maya. Di Indonesia,
seorang influencer dengan jutaan pengikut bernama Awkarin pernah memilih untuk
berhenti sementara dari Instagram demi menjaga kesehatan mentalnya. Meskipun ia
orang tampak selalu percaya diri di hadapan publik, tetap saja tekanan dari
komentar, sorotan, dan tuntutan untuk terus tampil sempurna di media sosial
bisa membuat seseorang merasa lelah dan tertekan.
Munculnya tren yang
disebut “diet media sosial” atau “digital detox” menjadi salah satu akibat dari
fenomena ini . Intinya, orang sengaja mengurangi atau bahkan berhenti sementara
dari Instagram, TikTok, dan platform lain supaya pikiran lebih sehat. Survei
Nielsen tahun 2024 menunjukkan, 65% milenial merasa terlalu bergantung pada
ponsel dan internet. Dari angka itu, 70% mengaku butuh waktu untuk menjauh agar
tidak terus-terusan tertekan oleh informasi dan interaksi daring. Di Indonesia,
rata-rata pengguna media social yang jumlahnya mencapai 139 juta orang
menghabiskan lebih dari tiga jam sehari menatap layar. Angka ini membuat budaya
membandingkan hidup semakin sulit dihindari.
Maka dari itu, mengatakan
bahwa media social memberikan dampak positif tidak sepenuhnya benar. Melainkan,
media social dapat berdampak negatif ketika tidak ada kesadaran diri dan
batasan yang sehat dalam pengunaan media social. Ini dapat menjadi sumber
tekanan dan merusak cara kita memandang diri kita sendiri. Budaya seperti
membandingkan hidup, berlomba mendapatkan pengakuan, serta mengukur harga diri
dari jumlah like atau pengikut yang dihasilkan dari media social, Lama-lama
akan mengurangi rasa percaya diri, bahkan bisa memicu masalah kesehatan mental
yang serius. Padahal, tujuan awal dari diciptakannya media sosial adalah untuk
saling terhubung dan berbagi cerita secara positif. Sudah seharusnya kita
mengembalikan fungsi itu menggunakannya sebagai alat untuk membangun interaksi
yang lebih bermakna, bukan sekadar arena persaingan citra yang menekan dan
menjauhkan kita dari hubungan yang tulus.
Daftar Pustaka
Nielsen. (2024). Laporan survei perilaku digital generasi milenial di Asia Tenggara. Nielsen Media Research.
Primack, B. A., Shensa, A., Sidani, J. E., Whaite, E. O., Lin, L., Rosen, D., Colditz, J. B., Radovic, A., & Miller, E. (2017). Social media use and perceived social isolation among young adults in the U.S. American Journal of Preventive Medicine, 53(1), 1–8. https://doi.org/10.1016/j.amepre.2017.01.010
Surgeon General of the United States. (2023). Social media and youth mental health: The U.S. Surgeon General’s advisory. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.hhs.gov
University of Pennsylvania. (2018). Limited social media use improves well-being. University of Pennsylvania News. https://www.upenn.edu
ViralPress. (2023, September 5). Thai teen takes own life after being scammed buying iPhone online. Daily Mail. https://www.dailymail.co.uk
Komentar
Posting Komentar